Selasa, 15 Mei 2012

Rencana Indah Tuhan

 Yakinlah semua, bahwa setiap alur hidup kita itu memang Tuhan yang mengatur dan di setiap peristiwa yang kita lewati disanalah Tuhan akan menunjukkan rencana Indahnya -Nurhayatii Zaiinal-


Terik matahari yang panas mulai membakar ubun-ubunku. Ini adalah saat dimana orang-orang mulai melaksanakan kegiatan rutinnya untuk makan siang, tapi tidak bagiku dan kakakku. Ini adalah waktu kami untuk terus mencari uang, uang dan uang. Biasanya kami melakukan aktifitas yang tak seharusnya anak-anak seumuran kami lakukan yaitu mengemis harta dari orang-orang kaya yag terkadang sering mengacuhkan kami.

"Kak, aku lapar kak". Ucapku meringis.
"Sabar ya dek ntar lagi kalau kakak ada uang lebih, kakak beliin kamu nasi Padang deh".
Wajahku mencerah "Beneran ya kak, asik kakak baik deh".

Aku terus bekerja, dengan bermodalkan plastik bekas air mineral aku bernyanyi riang sambil berharap kasih iba orang-orang kaya itu. Aku memperhatikan jumlah uang yang telah aku kumpulkan ternyata masih berjumlah dua buah uang ribuan. Mana cukup uang seperti ini untuk membeli nasi bungkus, apalagi uang kakak yang pasti tidak akan mampu membeli nasi yang rasanya tidak tertandingi itu, ucapku kesal dalam hati.

Aku kembali menghampiri kakak, sudah sejam aku bersuara merdu di atas aspal ini, saatnya aku beristirahat.
"Kak, udah berapa uang yang terkumpul kak?". Aku mengintip isi plastik bekas kakak yang sama persis sepertiku.
"Baru 5 ribu dek". Ucapnya murung.
"Ternyata Tuhan ngak adil ya kak".
"Ngak adil gimana? Tuhan itu maha adil adekku sayang".
"Bohong kak, buktinya kalau Tuhan itu adil, pasti hidup kita tidak akan semelarat ini, kita pasti hidup nyaman kak".
"Lah, Tuhan itu pasti punya rencana yang indah buat kita, yakinlah".
"Ogah ah, ngak mau kakak aja sonoh yang yakin".
"Ya sudah kalau kamu ngak mau percaya, tapi jangan nyesal ya".

Aku menggangguk lesu. Kakak melanjutkan pekerjaanya menyanyi sambil bermain gitar, sedangkan aku kini hanya duduk termenung karena kelelahan.

Dari kejauhan aku melihat seseorang membukakan kacanya untuk kakak, kakak menerima satu lembar uang. Ahh paling itu cuma uang seribu, orang kaya mahh pelitnya minta ampun, ucapku lagi dalam hati.

Tampak kakak tengah berlari mendekatiku.
"Dek, liat kakak bawa apa?". Wajahnya sumringah.
"Paling uang seribu doang ya kan kak?"
"Ngak". Kakak mengeluarkan uang yang ada disakunya "Nih uang 100 ribu".
"Wah kakak hebat". Aku mendecak kagum.
"Nah Tuhan itu adil kan, ayo sekarang minta maaf".
"Kakak maafin aku ya?"
"Waduh bukan sama kakak, tapi sama Tuhan".
"Ya deh kak".

Aku berdoa, tampak kakak sedang memperhatikan gerak komat-kamit bibir kecilku memohon maaf kepada Tuhan. Setelah berdoa aku langsung berangkat menuju restoran Padang yang sangat terkenal kelezatannya, aku makan dengan lahap dengan kakak. Wajak kami tampak seperti dulu saat kami masih berkecukupan.

Dulu aku dan kakakku hidup dalam serba kecukupan, tapi semua itu menghilang saat Papa, Mama dan kami berdua mengalami kecelakaan. Kedua orangtua kami meninggal dan hanya kami yang mendapat takdir untuk terus hidup. Semua aset keluarga ditikam habis oleh pamanku yang mempunyai sifat rakus harta, kami hanya pasrah menerima. Bagiku yang masih berumur 10 tahun terlalu sulit, tapi bagi kakakku, Revan yang mempunyai usia yang berbeda jauh 4 tahun dariku, dia hanya terlihat tidak begitu sulit menerima semua keadaan ini. Toh, dia percaya bahwa suatu saat tangan para malaikat akan menuntunnya ke arah yang bahagia.

Selesai sudah aku melahap sepiring nasi yang aku inginkan, hari sudah terlihat mulai gelap, aku dan kakakku kembali ke bawah kolong jembatan, tempat aku diperkerjakan dengan penuh paksa, beberapa saat lagi aku dan kakakku akan menyerahkan uang setoran kepada Si Boss yang terkenal cukup galak dan gila harta. Dia hanaya mengambil anak terlantar lalu mengiming-imingi dengan mainan setelah anak-anak tersebut mendapatkan apa yang mereka mau, manusia keji itu membudaki mereka dengan mengemis iba kepada orang-orang kaya diluar sana. Sungguh tidak punya hati, ini bukan perbuatan manusia, tapi bisa disebut perbuatan hewan, sungguh hina.

Malam ini, aku tidur nyenyak dengan harapan besok aku akan mendapatkan uang lebih yang bisa aku tabungkan. Uang tabungan ini aku tujukan agar aku bisa keluar dari pembudakan ini dan aku bisa melajutkan sekolahku lagi. Sudah dua tahun aku berhenti sekolah, betapa mirisnya hidupku ini.

Aku kembali bekerja, hari ini aku bersama kakakku mengamen riang, aku ingin mendengar alunan merdu suara sang kakak, tampak kembali mobil kemarin yang memberikan satu lembar uang 100 ribu kepada kakakku. Mobil itu menurunkan kaca mobilnya, tampak seorang anak yang seumuran denganku tengah terbatuk-batuk keras dan berbicara kepda ibunya yang ada di kursi depan.
"Mi, kasihan mereka ya, bisa ngak Mami kasih mereka uang banyak agar mereka bisa tidur nyenyak hari ini". Wajahnya memelas.
Dari saku ibu muda itu dikeluarkanlah dua lembar uang 100 ribu, satu untukku dan satu lagi untuk Kak Devan. Aku berterimakasih banyak kepada dua orang yang kusebut malaikat kecil penyelamat hidupku itu.

Mobil mereka melaju saat lampu berwarna hijau dinyalakan, aku melambaikan tangan.

Keesokan harinya mobil hitam berkilau itu muncul kembali, sama sepertinya anak mereka memelas kepada Ibunya untuk memberikan kami uang yang banyak lagi, dan Ibu itu memberikan lebaran itu dengan wajah tulus, aku berterimakasih.

Sejak saat itu aku merasa bahagia karena setiap hari aku didatangi dua orang malaikat kecil penyelamat hidupku. Kini uangku dan kak Devan terkumpul sudah satu juta rupiah, ahh cukup untuk sekolahku dan hidupku yang akan kutuangkan di sebuah kontrakan murah, aku hampir terbebas dari perbudakan. Teriakku dalam hati.

Semua impianku itu hampir brada tepat di depan mata, saat seorang dokter yang sudah menikah ingin mengadopsiku. Disebutkan oleh calon ayah angkatku bahwa mereka telah lama menikah dan Tuhan belum menitipkan anak untuk mereka.
"Paman, jika paman tidak dianugrahi Tuhan untuk punya anak, berarti Tuhan ngak adil kan Paman?". Ucapku polos.
"Tuhan itu adil sayang, Tuhan punya rencana indah buat kita".
"Apa buktinya Paman?"
"Buktinya ini, Tuhan mempertemukan kita, Paman disuruh Tuhan buat jhemput kamu agar hidup kamu bisa lebih baik dari ini". Paman itu mengelus rambutku.
"Bagaimana dengan Kakakku sendiri? Dia kan hidup sama sepertiku dijalanan apa Tuhan punya rencana juga untuk dia?"
"Tentu saja sayang, kamu harus yakin itu". Dengan sabar pria yang masih berkepala tiga itu menjelaskannya padaku.
Akhirnya aku mengikuti orangtua angkatku dan aku berpamitan dengan penuh air mata. Berat rasanya jika aku harus berpisah dengan saudara kandungku yang sudah menjagaku, menyayangiku sedari aku kecil.
"Kak, maafin aku ya, tapi kakak tenang aja, aku bakal liatin kakak tiap hari, nanti aku bakal beliin kakak makanan kesukaan kakak tiap hari jadi kakak bisa makan enak". Ucapku sambil menahan tangis.

Waktu sudah berlalu lama, janjiku pada kakak untuk selalu mengunjunginya setiap hari terpenuhi selalu. Saat ini aku duduk di kelas satu SMP, pendidikan yang aku impikan terpenuhi juga, kedua orangtuaku sangat menyayangiku sepenuh hati, membuat ku betah berada disana.Tapi ada satu hal yang tidak aku inginkan, Papa angkatku mendapatkan tugas diluar negri dan dengan otomatis aku dan Mama angkatku ikut juga, dengan berjuta keterpaksaan aku harus mengikutinya.

Aku sudah berada diluar negri, tepatnya di Australia, memang sangat jauh dengan Indonesia, selama disana aku selalu memikirkan keadaan kak Revan, apakah hidupnya saat ini masih menjadi gelandangan atau sudah menjadi 'Seseorang".

Di sini, setelah lama aku berjuang di negri orang, akhirnya aku bertemu dengan seseorang berkebangsaan Indonesia, yang wajahnya tidak asing bagiku. Dia adalah malaikat kecilku dulu yang selalu merengek pada ibunya untuk memberi aku rezeki. Ahh pertemuan tidak terduga. Aku tertawa kecil.
Setelah berkenalan aku mengetahui namanya Putra, kami menjalin pertemana yang lumayan erat. Aku bertanya tentang ehadiran kakakku sebelum dia pindah kesini.
"Putra, kapan kamu terakhir ngeliat kakak aku?".
"Hmm rasanya enam hari setelah kamu pergi keluar negri, aku juga sempat nanyain kamu ke dia, dia bilang kamu di adopsi, aku senang dengarnya, akhirnya kamu mendapatkan hidup yang layak dan ternyata kamu di adopsi sama teman Mama aku". Putra melempar senyum.
"Sejak saat itu kamu udah ngak pernah ngeliat dia?".
"Enggak Nia, dia kayak udah ngilang gitu aja".
Mataku berair, setetes air mata berjalan menelusuri kelopak mataku, menuruni pipiku dan akhirnya jatuh ke tanah.
"Tania, sabar ya, aku berharap kamu bisa dipertemukan lagi dengan kakak kamu".
Aku tersenyum tenang mendengar kalimat penyemangat dari Putra.

Sekian lama kami berteman, sekian lama waktu berputar. Tidak terasa aku sudah bekerja, dan pertemananku dengan Putra membawa kami ke sebuah hubungan pacaran dan kami akhirnya menikah. Setelah menikah kami pinah ke Indonesia.

Terus mencari dan mencari, Kak Revan belum juga kutemukan, aku takut dia sudah tiada lagi. Begitu sedih hatiku. Untuk menghibur diriku, Putra mengajakku ke studio rekaman milik orang tua suamiku sendiri. Dari kejauhan alunan suara musik yang diputar melalui komputer atau laptop mungkin yang terdengar sayup-sayup jelas. Aku mendekati arah suara itu ternyata kulihat seseorang sedang menghidupkan musik yang mungkin dimaksudkan agar dia tertidur.

Aku menelusuri ruangan lain, kini aku mendekati ruang rekaman, kata Putra hari ini ada jadwal penyanyi baru yang rekaman. Karena penasaran aku langsung menarik tangan Putra.
Aku hanya bisa mengintip dari luar saja, dari celah pintu yang kecil. Mama Putra melihat kami berdua dan mempersilahkan kami masuk. Di dalam aku melihat penyanyi itu sedang menyanyi dengan pemahaman gitarnya. Aku tidak bisa melihat wajhanya karena punggungnya menghadap ke aku.

Setelah penyanyi baru itu selesai mengalunkan suara merdunya itu, aku bertepuk tangan. Tampak dia mulai keluar, wajahnya masih belum terlihat, dan pada detik berikunya aku melihat wajahnya. Wajahnya sangat tampan, matanya indah, tubuhnya tinggi tegap. Wajah itupun tidaklah asing. aku menghampiri penyanyi itu untuk meyakinkan pandanganku. Dari arah belakang aku langsung memeluk tubuhnya, membuat seisi studio terkejut.

"Tania, apa yang kamu lakukan?". Nada Putra marah.
"Putra, kamu tahu ini siapa?". Air mataku menitik.
"Dia penyanyi baru, apa kamu mengidolakannya?".
"Mengidolakannya? Sungguh bodoh, dia belum terkenal tapi aku malah mengidolakannya". Aku masih memeluk tubuhnya.
"Lalu siapa? Lepaskan pelukanmu nak". Sergah Mama Putra.
"Aku ngak mau lepasin Ma, orang ini sangat berarti bagiku. Dia adalah orang yang selama ini memberiku arti kehidupan, dia yang merawatku saat aku sakit". Tangan pria itu melepas pelukanku.

Pria itu berbalik arah, menatap wajahku dalam-dalam. Kini aku berada dipelukan hangatnya, ya pria itu adalah Kak Revan yang selama ini aku rindukan.
"Kak, maafin aku ya, udah lama aku ngak ngeliat kakak, aku bukan adek yang baik kak".
"Ngak apa-apa kok dek, kakak juga di adopsi sama keluarga yang baik banget sama kakak". Terasa air mata Kak Revan jatuh di pundakku.
"Aku bahagia dengarnya kak, aku senang akhirnya kita bertemu lagi kak".
"Ya dek, bener kan apa kata kakak dulu kalau Tuhan itu punya rencana indah buat kita".
"Ya kak, aku udah paham maksud kalimat itu".
Aku tersenyum bahagia, masih dalam pelukan kakak, ku merasakan kebersamaan kami yang lengkap sudah.


        With Love



   Nurhayatii Zaiinal ♥

Sabtu, 12 Mei 2012

Ujung Jembatan

Kau berjalan di depanku
Langkah kakimu terdengar gusar
Terus melangkah
Tanpa henti di depanku

Sudut mataku menoleh ke arahmu
Melihat sisi punggungmu
Yang semakin tidak jelas
Di pandanganku

Seperti itukah kau kini?
Jadikan aku pelarian sementaramu
Tempat kau bersembunyi
Dari takut yang akan mengecammu

Kau anggap aku
Bukan sosok abadimu nanti
Sosok masa depanmu
Tapi kau malah anggap aku
Sebagai jembatan kecil
Penghubung cinta raga sejatimu

Tidak bagiku, tidak . . .
Sudah lama ku anggap kau
Sebagai ujung jembatan ini
Nyatanya fakta berbalik

Ahh sudahlah
Percuma saja ku anggap kau sebagai ujung jembatanku

Tuhan telah berbisik halus padaku
Bahwa masih banyak jembatan yang akan ku temui
Dimana ujungnya akan terasa bahagia
Tanpa mendung air mata ini


         With Love


    Nurhayatii Zaiinal ♥

Jumat, 11 Mei 2012

Tatapan tengah hujan

Gemericik hujan basahi senja kita
Basahi pijakanku
Tempatku menyendiri
Kupandangi lekuk wajahmu dari sudut kejauhan
Indah bagiku

Kini Aku berlari ditengah hujan
Kau tatap aku dengan seribu tanya
Tatapanmu tidak biasa
Layaknya saat kita pertama jumpa
Dimana senyum hanagat menyambutku

Ku acuhkan raut tanyamu
Hatiku hanya termenung hening 
Merenungi setiap angan dan mimpiku
Untuk bisa disampingmu
Hilangkan sepiku kini

Terus kuberlari dan berlari
Hingga akhirnya pijakanku ada di dekatmu
Tempat yang kering, hangat dan ramai
Kembali kau tatap aku
Dengan tatapan mu yang tidak makan pernah mengenal ku lagi
Dan kini aku merasa sepi



        With Love






   Nurhayatii Zaiinal  ♥

Jumat, 04 Mei 2012

Peluk Aku Sekali Lagi

Aku berjalan menyusuri pematangan sawah, airnya yang jernih mebuat hatiku damai, kicau burung bernyanyi riang, kupu-kupu bertebaran sepertinya mereka saling jatuh cinta. Saat ini aku hendak menuju rumah lamaku yang sudah lama aku tinggalkan semenjak aku kulaih di luar negri.

Aku hampir mendekati pintunya, perlahan aku ketuk pintu tua itu, tidak beberapa lama kemudian seseorang yang tak lain dan bukan adalah kakakku menyambut hangat kedatanganku yang sudah lama dinantikannya. Aku melepas penat sesaat dikamarku, mataku hampir terlelap tapi pikiranku tidak, aku melihat seseorang dengan paras lembut tengah mengusap rambutku, hingga akhirnya membuatku tertidur dan seseorang itu tidak ada dihadapanku lagi .

Aku tengah tertidur jauh, dalam bayanganku seseorang itu muncul lagi aku melihat pakaiannya begitu indah seindah parasnya, seseorang itu tengah memegang boneka beruang kesayanganku dan ia memberikannya kepadaku, dia tidak berkata satu patah kata pun. Aku terheran kenapa ia tidak berbicara? Apakah aku berbuat kesalahan untuknya atau apakah ia ingin memancingku untuk berbicara terlebih dahulu. Aku tidak tahu.

Aku merasa ini bukan seperti mimpi, sepertinya aku sudah terbangun. Nyata rupa makhluk tuhan itu jelas. Aku mengusap mataku beberapa kali, aku melihatnya kini tengah duduk disampingku membawa secangkir susu hanagat, masih belum berbicara, dia hanya tersenyum memandang wajahku yang tengah terheran-heran. Aku tidak ingin memulai pembicaraan aku ingin dia yang berbicara padaku. Aku merasa begitu mengenal wajahnya, cara bicaranya dan cara dia menatapku dengan tatapan yang mampu membuatku luluh.

Dia menyerahkan cangkir tadi. Tanpa ragu aku langsung meminumnya, rasanya sangat manis seperti yang aku sukai. Dia tengah menatap mataku lagi, sementara aku terus mencicipi susu panas itu. Aku menantikannya berbicara padaku, belum juga dia berbicara. Aku meletakkan susu hangat tadi.

Aku melihat raut wajahnya, sepertinya dia menyimpan berjuta kerinduan yang sepertinya kerinduan itu diarahkan untukku. Tanpa terasa air mataku menetes.

"Nak, kamu gimana kabarnya". Tanya seseorang itu dengan halus.

"Kabar baik Ma, aku hampir lulus kuliah bentar lagi". Air mataku makin deras.

"Nak, kamu jaga diri kamu ya, kakak kamu juga, Mama berharap kalian saling melindungi".

"Iya Ma aku janji". Aku menciumi pipi seseorang itu yang tidak lain adalah ibuku.

"Ma aku minta peluknya dong", Nadaku manja.

Aku mendapat peluk cinta seseorang yang sangat kurindukan. Air mataku menderas, membasahi pipiku, membuatku gelisah.

Aku tersentak, ahh Mama dimana Mama sekarang? Aku bingung. Aku berlalri keluar menemui kakakku.

"Kak, Mama pergi  kemana barusan Kak?".

"Mama? Sayang, Mama kan udah lama ninggalin kita sejak kamu SMA, kamu pasti mimpi ya" Kakak Ririn mengusap kepalaku. "Menurut kakak, mimpi kamu itu tandanya Mama rinduin kamu, kamu rajin sholat dan doaian Mama ya dek".

Aku menggangguk kecil, terdiam membisu. Aku teringat jelas ketika tadi Mama memeluk tubuku.
Ma, aku mohon peluk aku sekali lagi ya Mama ku sayang, aku merindukanmu

*Cerpen untuk Mamaku tercinta, semoga engkau tenang disana ya Ma, aku disini mendoakanmu kok :')


          With Love






     Nurhayatii Zaiinal ♥

Sabtu, 14 April 2012

Menggapai Jemari Mu


Menatap mu dari kejauhan terlalu rumit bagi ku
Rintik hujan setiap detik halangi pandangan kita
Butir lembutnya menghunus tajam mataku
Perih . . .
Begitu perih yang kurasakan untuk melihatmu

Mata ku terlalu menatapmu dalam tempo yang cepat
Dengan perasaan yang mendalam
Kulihat di sisi lain
Kau malah tenggelam di dalam permainan mu sendiri
Tanpa menggunakan logika bahwa aku juga permainanmu

Dulu kau pertanyakan aku
Tentang isi benak dan hatiku
Sekarang kau malah membuang tanya itu
Rasa yang kau tanam telah kau campakkan
Raga ini terlalu rumit menggapai jemari mu :')

Rabu, 11 April 2012

Quote Of Today

Spongebob : Apa yang akan kamu lakukan jika aku pergi???
Patrick : Aku akan menunggu mu kembali
Spongebob : Jika aku tidak akan benar-benar untuk tidak kembali, apa hal yang akan kamu lakukan???
Patrick : Aku tetap akan menunggu mu kembali :)

***

Patrick : Pemujaan yang berlebihan itu tidak sehat

***

Patrick : Kepintaran tidak akan bisa membeli persahabatan, lebih baik aku bodoh asal aku mempunyai sahabat sepertimu :)

Selasa, 10 April 2012

Secercah Senja untuk Mentari Yang Akan Terlelap

Kini Senja sudah menjadi kawan hidup sang Mentari, menjadi penutup senja menjelang malam, dan sang malam pun kini menunggu bulan untuk menjadi kawan hidupnya di malam yang sunyi
 
Aku menghempaskan tas yang penuh dengan buku-buku sekolah yang berlebihan muatan yang dimana buku-buku itu akan aku kembalikan  ke perpustakaan, bukan aku keberatan beban tapi aku sedang meluapkan emosiku dihadapan seseorang yang tengah mengintrogasiku secara berlebihan.
Dia adalah seorang kekasihku Senja, sejak tadi aku heran dengan sikapnya yang agak berlebihan, dia menyangka aku telah mengacuhkannya tadi malam berkata aku sedang bersama seseoranng atau apalah yang ingin disebut, hal itu terjadi sebab aku tidak membalas pesan singkat yang dikirimkannya pukul 10.30 malam. Ohh tuhan yang benar saja biasanya sekitar jam itu para pelajar sudah terlelap pulas kecuali bagi yang sedang sibuk berkutat belajar untuk esok hari.
Aku sudah menjelaskannya dengan sabar bahwa aku sudah terlelap, tetapi dia tetap saja meninggikan egonya berkata bahwa aku sudah tidak acuh dengannya. Menurutnya apa setiap detik aku selalu terkekang untuknya??? Masih ada hal pasti yang ingin aku lakukan. Aku berharap dia mengerti keadaanku ini.

"Senja, apa kamu tidak mau mendengarkanku dulu? Kamu selalu saja mementingkan ego kamu itu, selama ini aku sudah cukup sabar, tapi karna kesabaranku itu kamu semakin menjadi-jadi, apa kamu tidak mengerti itu?" Aku mengambil tasku dan buku-buku yang berserakan "Ya udah terserah kamu aja, yang penting mulai detik ini kamu ngak usah temui aku, lagian kita kan udah selesai UN, selesai tamat dari SMA ini kita akn terpisah satu sama lain, walau jujur hatiku terlalu berat untuk melepasmu". Aku menahan mendung kecil menelesuri pipiku.

"Tari, aku minta maaf ya, aku cuma takut kehilangan kamu aja".

"Ya udahlah, aku udah maafin kamu, tapi kalau kamu mementingkan keegoan kamu, itu terlalu sakit buat aku, apa kamu tahu? Aku hanya butuh sebuah pengertian tidak lebih dari itu. Lebih baik kita jalani hidup kita masing-masing.

Kakiku melangkah cepat meninggalkan Senja, kini dia bukan siapa-siapa ku lagi. Mataku sudah dirundung hujan deras, aku tidak sanggup menahan ini, tapi ini demi kebaikan kami bersama, terlebih kebaikanku juiga.

Hari yang aku dan teman-teman seangkatan ku tunggu telah tiba, ini penerimaan hasil kelulusan. Aku tersenyum bahagia saat semua siswa siswi dinyatakan lulus. Dikala mereka sibuk dengan kertas berisi pernyataan kelulusan itu, mataku tengah sibuk mencari wajah Senja, tepat arah jam 2 aku melihatnya tengah menatapku juga, aku melihat senyumnya, wajahku segera kualihkan, aku tahu ini mungkin pertemuan terkahir ku dengannya, tapi tetap saja aku selalu tersesat di hatinya. Untuk melupakannya saja tidak mungkin, ada setitik penyesalan aku meretakkan hati kami yang telah bersatu lebih dari 2 tahun. Tapi apa aku harus mengatakannya sekarang bahwa aku ingin kembali lagi? Aku takut sangat-sangat takut.

***

Kakiku melangkah cepat saat aku hendak meninggalkan ruang kuliah di sore itu, aku hendak menuju ke kost ku, ingin kuhempaskan tubuhku secepatnya, benar-benar letih hari ini.  Sudah 2 tahun aku disini, tapi baru kali ini aku merasakan keletihan yang berbeda. Sesampainya di tempat tujuan aku merebahkan tubuhku sepuasnya, refleks saja aku terbangun mengingat dulu sebelum ke Yogya aku pernah membawa kotak mungil berisi perhiasan murahan ku yang lucu, tapi nukan itu yang aku cari, aku teringat bahwasanya aku pernah meletakkan kartu memory ku di dalam kotak itu, aku ingin mendengar lagu saat masa putih abu-abuku ku dulu. Aku mencari kota itu, dan AHA!!! Ketemu!!! Segera aku memindahkan kartu kecil itu ke dalam handphone ku, aku mengotak atik isi didalamnya, aku memutar lagu saat aku masih bersama Senja, aku melihat kenangan abadi sebuah foto aku dengannya, saat aku ulang tahun. Begitu terasa indah, tanpa sadar air mataku membasahi layar handphone ku. Lagi-lagi bayangan ku tertuju padanya. Aku rindu ingin pulang ketempat asalku, terutam,a mengunjungi SMA tempat kenangan romantis selalu ada disana.

Liburan, ya saat nya aku pulang. Menaiki pesawat, menaiki mobil selama 2 jam ternyata cukup melelahkan juga. Aku pulang disambut hangat mama dan papa, disambut makanan yang masih hangat juga. Aku bercerita saat aku berinteraksi disana, bagaimana jadwal keseharianku, mereka mendengarkanku dengan penuh semangat. Apakah aku sudah benar-benar kembali ke rumah? Tempat dimana aku mendapatkan kehangatan yang nyata.

Pagi ini, aku bisa merasakan udara segar menyelimuti seluruh paru-paruku, di hari kedua ini aku merasa terindu untuk mengunjungi SMA ku, mumpung saat ini hari Minggu, aku berangkat pagi-pagi sekali. Setibanya disana, aku melihat segerombolan tim basket bermain dengan kelihaiannya, seperti yang Senja lakukan dulu setiap Minggu pagi, teringat aku ketika dia mengajariku teknik bermain basket, selalu kegagalan yang aku alami tiap aku melemparkan benda bundar itu ke ring, selalu kepalaku yang menjadi korban keganasan bola itu, sesekali kepalaku dihantam benda itu, tapi Senja selalu mengelus kepalaku dikala aku meringis dan senyum manisnya keluar dengan sumringah.

Tanpa terasa air mataku menetes, tapi bibir ku tetap tersenyum, kenangan di SMA ini membuat dadaku sesak. Aku melangkahkan kaki ke sebuah pohon dimana kami dulu pernah mendengarkan lagu romantis bersama, di kala itu aku berharap Senja datang mengunjungiku dan memanggil namaku dengan nada manja  sekali lagi. Tapi apa daya, harapan itu kosong. Hanya suara bising teriak para pemain basket itu. Aku menoleh sesekali ke arah mereka memastikan Senja terlibat di dalam permainan itu, ahh percuma saja, dia tidak akan kembali, dia sudah pergi meninggalkan hidupku.

Aku pulang tanpa seorang kawanpun, aku berjalan perlahan diantara kebimbangan, menyesal aku telah meninggalkannya, meyesal membiarkan diriku kehilangan malaikat penyejuk hatiku, menyesal aku membiarkannya mungkin mencoba menghapus bayanganku ini. Aku hanya mampu berharap pada Tuhan untuk menegarkan hatiku yang teriris perih ini.

Setibanya dirumah aku berfikir kembali untuk mengunjungi sekolahan ku seminggu lagi, aku berjanji akan menunggunya lagi walau dia tidak akan kembali sekalipun, ini pengorbanan ku untukmu cinta :')
Di rumah, hati ku berdoa setiap detik untuk bisa melihatnya kembali, walau dia sudah bersama yang lain aku tidak peduli yang aku inginkan adalah menghilangan perasaan yang menyengat batinku ini, cukup itu saja.

Sudah seminggu, ini waktunya aku mengunjungi sekolahan ku lagi, kondisi fisikku dalam keadaan tidak sehat tapi aku memaksaan keadaan untuk janjiku ini, aku kembali memandangi segerombolan tim basket itu yang masih bermain sampai sesore ini, kali ini riuh teriaknya lebih keras dari yang seminggu lalu, tapi aku anggap itu angin lalu. Tubuh ku terasa sangat lemas, mata ku segera meneliti tempat untuk aku beristirahat, aku mendapatkan tempat yang strategis, ya dimana lagi kalau bukan dibawah pohon penuh romansa itu. Aku berjalan pelan, mata ku kini penuh dengan kunang-kunang yang menari kesana kemari. Tubuh ku terhempas ke bawah, ditarik gravitasi, tapi aku merasakan sesuatu yang menahannya, aku merasakan jemari hangat seseorang mengengam erat lengaku, berharap itu Senja, tapi itu bukan dia melainkan salah satu anggota tim basket tadi. Mataku mulai terlelap, dikala itu aku merasakan rambutku diusap beberapa kali. Beraninya anak itu mengusap rambutku, apa dia tidak tahu bahwa aku seniornya? Aku segera mengelakkan tangannya dari kepalaku.`

"Hei kamu, sopan sedikit sama senior kamu". Ucapanku membentak.

"Maaf ya kakak cantik". Dengan nada manja.

Aku mengenal suara itu, aku segera membuka mata, dan ternyata aku memandangi senja yang sudah mulai berganti malam, ahh bukan itu tapi aku melihat Senja, ya Senja yang aku harapkan. Aku menatap dalam matanya, kini dia sudah duduk disampingku, setengah tidak percaya, aku sesekali menggosok mataku, dia tetap tersenyum.

"Hai". Ucapnya pelan.

Penampilannya tidak berubah sama sekali, hanya saja baju basket yang sepertinya masih baru yang digunakannya menggunakan nomor keberuntunganku 21 dan disana tertulis namaku MENTARI, aku hanya tersenyum tipis melihatnya, dan mulai tertawa lebar. Kami saling menanyakan kabar satu sama lain, ditengah percakapn, aku memarahinya. "Kenapa kamu hilang dariku? Apa kamu tidak mau aku tahu dimana kamu?" Ucapan ku terucap spontan, begitu juga dia.

"Kamu yang menghilang, setelah kita menerima hasil kelulusan, aku ingin mendatangi mu tapi kamu malah pergi, pergi selama ini padahal aku ingin mengucapkan bahawa aku sudah berubah dan masih ingin mencintaimu selamanya".

"Jadi, selama ini kamu sama seperti ku menunggu hadir seseorang untuk kembali, membiarkan hati kita diisi ketidakpastian cinta?".

"Benar, itu yang aku lakukan demi kamu yang mampu membuat ku berubah". Air mukanya tersenyum manis.

Langsung saja aku memeluk tubuhnya, aku menangis di pelukannya sepuas yang aku mau, aku memintanya untuk kembali ke hatiku, mengisi kepastian ini, dan dia menyanggupinya dia pun berjanji sudah berubah sejak dulu, keegoisannya memang terlihat tanggal dari dirinya. Kebahagiaan ku kembali untuk selama-lamanya.

Badanku masih lemas di pelukannya, dia merangkul taganku untuk kembali duduk, di saat itu dia kembali memanggil namaku dengan manja dan mengusap rambutku dengan kehangatan jemarinya.

Kini Senja sudah menjadi kawan hidup sang Mentari, menjadi penutup senja menjelang malam, dan sang malam pun kini menunggu bulan untuk menjadi kawan hidupnya di malam yang sunyi.

Bayanganku ada untukmu dan bayangan mu akan ada untukku, samapi akhir waktu aku bersama mu, SELAMANYA. AMINNN :)



Terimakasih untuk mu Tuhan, apa yang aku lantunkan di dalam hati ini engkau kabulkan juga.


               With Love






          Nurhayatii Zaiinal ♥

Jumat, 06 April 2012

My Prince Imagination (Part 2)

"Cinta bukanlah sesuatu yang gampang datang, tetapi cinta adalah dimana seseorang mampu bertahan memperjuangkan cinta"

Kalimat itu selalu terngiang-ngiang di telingaku ketika aku m,engingat perjuangan hatiku dimana aku sudah bertahan lama terhadap makhluk tuhan yang belum pasti akan menjadi garis takdirku.

Kakiku kini telah melewati garis batas sekolah, hari ini aku benar-benar dalam keadaan murung. Tidak ada perjumpaan anatar aku dan dirinya, aku melewati kelasnya beberapa kali tetapi dirinya tidak kunjung tampak. "Ahh gue galau lagi" Ucapku kesal.

Sesampainya di kamar, aku m,enghempaskan tubuhku di kasur empuk berwarna hijau muda. Sesekali mataku melirik ke sebuah benda yang kugenggan, aku menanti suara lucu dari benda itu.
"Ahh, tetap saja kamu tidak menghubungiku". Aku membanting guling ke dinding.

Tubuhku terasa digoyangkan, aku merasa seperti ada gempa.
"Reren, bangun makan malam dulu". Suara lembut itu berbisik pelan.

Mataku terbuka, cahaya lampu mulai bereaksi dengan pupilku.
"Hoamm, iya ma, bentar lagi aku keluar, aku mau ganti baju dulu, dari tadi aku tidur pake baju sekolah". Tawaku sambil menahan uap kantuk.

Mama menggangguk tanda meniyakanku, sepuluh menit kemudian aku sudah berada di meja makan. Kali ini aku makan dua porsi macam makanan. Satu makan nasi, dan yang satunya lagi makan hati. Sampai detik ini belum ada pesan singkat darinya. Menunggu itu adalah keresahan terbesar dalam hidupku. 

Aku sudah berada kembali di dalam kamar, AHA!!! Aku menoleh ke handphone dan melihat ada pesan singgah ke hanphone ini. Aku berharap ini dari dia dan dia . . . Ini pesan dari ALVIN !!! Ya dario Alvin, ahh bahagianya hati ini.

Maaf ya ren, aku ngak sempat balas sms kamu tadi malam.

Ya, gpp kok Vin :)

Aku sudah bahagia saat ini, walau ada kekecewaan terselip karena pesan darinya baru singgah jam 08.00 malam. tapi biarkan saja. Cinta itu bukan untuk dimarahi, tetapi untuk dimaafkan

Oh ya, bagaimana kabar kamu disekolah tadi???

Tanpa malu-malu aku langsung mengungkapkan luapan isi hatiku, aku benar-benar rindu padanya.

Ohh aku benar-benar galau seharian solanyaaku ngak ngelkiat wajah kamu ahahaha... *Kiddink
Yaa lumayan menyenangkan juga.

Aku menulis pesan singkat ini untuk mengingatkannya secara halus bahwa aku rindu, berharap pria menghanyutkan itu merespon pesanku. Tapi apa jawabannya.

Hmm baguslah, kalau gitu, hehe...

Jawaban seperti itu memang membuatku makan atau nyesek bagi istilah anak labil zaman skarang. Tidak biasanya ia bersikap tidak tidak perhatian seperti ini, memang dia bukan kekasihku, tetapi aku tau dia menyayangi ku begitu juga sebaliknya. Jadi wajarkan kami saling perhatian???. Aku terus membalasi membalasi pesan darinya dengan rasa kecewa yang kian menggunung, tapi aku tetap bersyukur sampai detik ini dia tetap menghubungiku.

Kringgg . . . Kring . . .
Tanganku menyentuh jam weker berwarna putih, jemariku mencari tombol untuyk menhentikan suara nyaring itu dan jemariku berhasil menekan tombol "Off". Aku terbangun dikala oksigen murni masih sempat kuhela dengan kedamaian alami. Refleks saja kakikiu melangkah menuju kamar mandi, beberapa saat kemudian aku sudah berada dijalanan setapak tempat dimana aku akan menujuu sekolahku yang hanya berjarak 500 meter. Aku diiringi aura biru, dengan harapan aku melihatnya tersenyum menatapku dan memanggil namaku, itu harapanku hari ini.

Jam istirahat tengah berlangsung, aku bersama sahabatku Vira, hendak menuju ke kantin. Ketika itu aku melewati kelas Alvin. Tapi dikelas itu aku tidak melihatnya, aku merunduk layu, sementara sahabatku mengenggam erat tanganku, hampir saja membuatku berteriak.

"Aaa. . . apaan sih loe Vir". Tanyaku sambil mengusap tangan kiriku.

"Isshh, ne anak, tadi Alvin lewat disebelah loe, loe nya aja yang nunduk kayak kucing kesamber, eh tadi dia liatin loe tuh".

"Masak sih Vir, ya kalo dia ngeliatin gue bagus deh, tandanya dia tu masih perhatian sama gue". Ucapku sambil menyunggikan senyum.

Sesampai di kantin, kami membahas mengenai Alvin lagi, ahh lagi-lagi dia. Ternyata dia sudah lama menjadi racun dalam darahku disaat aku rindu dan sepi, otakku terfokus untuknya, bayangannya rupanya tegak, nyata dan diperbesar. Tidak ada pemikiran selain dirinya. Pembicaraan kami terhenti sejenak saat makanan yang kami cicipi habis dilahap. Aku dan Vira akan menuju kelkas, lagi-lagi aku sengaja melewati kelas pria manis itu. Dan Opps!!! Aku melihatnya sedang berdialog dengan salah seorang gadis yang berpenampilan anggun dengan cardigan berwarna peachnya. Ahh jujur saja aku merasakan hawa cemburu mulai membakar ubun-ubunku. Tapi memangnya dia siapa aku??? Bukan siapa-siapa. Lebih baik aku abaikan saja, aku harus berfikiran positif, bisa saja gadis yang anggun tadi hanya salah seorang teman Alvin yang ingin menanyakan sesuatu.

Aku sudah berada kembali di bangkuku, bayanganku tertuju lagi kepada Alvin, kini imajinasiku membayangkan bahwa nanti dia akan mengantarku sepulang sekolah nanti seperti yang pernah dia lakukan padaku sebanyak empat kali. Saat pulang nanti, aku ingin merasakan kembali atmosfer udara yang menyesakkan dadaku, tatapan mata yang ingin kulihat tapi aku takut dan ucapan dari mulutku yang terbata-bata, dan semua hal itu merupakan hal yang indah.

Bel pulang sekolah mempunyai tugas bernyanyi riang, aku sendirian mondar-mandir di depan kelasku menanti pesan singkat darinya yang mungkin saja berisi ajakannya untuk bertemu atau apalah, tetapi tidak ada, layar handphoneku hanya kosong, dan aku tersadar aku sudah berdiri disini selama 15 menit. Aku pasrah, aku memiulih untuk pulang sendirian, aku menuruni tangga secara perlahan.

"Hai Reren". Suara iotu sepertinya berasal dari arah belakang, aku membalikan tubuhku ke belakang. "Hai". Ucapku pelan.

"Udah mau pulang ya". Ia menyunggikan senyumnya untukku "Apa mau akuaaa...". Ucapannya terhenti.

"Ya aku udah mau pulang, kenapa". 

"Ngak kenapa-kenapa kok, ya udah  pulangnya".

"Iya". Aku melemparkan senyumu secuil, dalam hati aku tahu ia ingin mengantarkanku pulang, tapi sepertinya dia malu, gugup atau sejenisnya atau apalah.

Kami menurunu jejang bersama, terpisah diantara arah jalan pulang yang berbeda, yapp atmosfer udara yang menyesakkan kini kurasa walau hanya sesaat saja, bersama pangeran imajinasiku, suatu saat aku berharap dia bukan lagi seorang pangeran imajinasi tetapi pangeran yang nyataku. AMINN :)

"Vir, gue benar-benar jatuh cinta, gue udah terlanjur sayang sama Alvin". Sambil merebahkan tubuhku di atas kasur.

"Gue tau kok Ren, dari tatapan mata loe aja gue udah terka, gue yakin cinta loe tulus ke dia dari hati".

"Ahaha, tau aja loe, oh ya besok kan kita ada olahraga di lapangan, gue mau datang pagi-pagi terus gue mau luapin isi hati gue, gue pengen teriak biar gue lega".

"Serius loe mau lakuin itu Ren??? Gue ikut dong".

"Ceep ceep ceep, ya udah gue maumakan makan dulu ya, bye".

"Bye" Aku segera menekan tombol berwarna merah pada layar handphoneku pembicaraan kami selesaiu saat itu juga,

Kringgg . . . Kringgg . . .
Suara itu kembali terdengar di pagi buta, jemariku kembali melakukan tuganya untuk m,ematikan suara yang nyaring itu. Aku bangun lebih cepat, nanti aku dan teman-teman sekelas akan melaksanakn olahraga di sebuah lapangan yang berjarak 3 KM dari sekolahanku.

Pukul 06.30 pagi, aku d\sudah menginjakkan kaki dilapangan ini, satu jam sebelum acara ini dimulai. Aku melihat kesekeliling lapangan, tidak ada seorang pun disana kecuali para olahragawan yang tengah berlari kecil mengelilinggi lapangan itu, sesekali para olahragawan itu terdengar mengambil nafas dalam-dalam. Vira belum juga datang, tapi itu lebih baik aku bisa meluapakn isi hatiku sepenuh hati dan semauku.

Suaraku mulai beraksi.
"Woii Alvin . . . Gue sayang banget sama loe. . . Tolong jangan bikin gue patah hati, sumpah gue cinta berat sama loe, udah banyak pengeorbanan yang gue lkakuin ke loe, dan sebagian besar itu pengorbanan yang konyol. Tapi loe ngak pernah berkorban demi gue, mungkin loe cuma imajinasi bagi gue, tapi rasa gue nyata gue nyata buat loe Alvin". Suaraku menggema kesegala sudut, aku lega sudah melampiaskan perasaanku walau dengan cara yang lagi-lagi kusebut konyol. Ini sebuah pengorbanan demi sebuah imajinasi.

"Are you serious???" Suara lembut itu muncul.

Aku tidak tahu darimana asal suara itu, aku membalikkan arah tubuhku ke belakang.

"Joe" ucapke setengah terkejut "Ngapain kamu kesini, seharusnya kamu ke sekolah, jadwal olahraga kamu kan bukan sekarang".

"Ya tadi ada sahabat kamu, nyuruh aku kesini, katanya aku bakal dapat surprise gitu, makanya aku kesini buat hilkangin rasa penasaran. Dan ternyata surprisenya kamu mengungkapkan perasaan kamu ke aku ya".

"Ihh apaan sih??? Pasti ini ulah Vira, mana tu bocah???". Ucapku setengah menahan malu.

"Noh di luar, eots tapi jangan keluar dulu, emang tadi kamu jujur ungkapin perasaan kamu???". Tanyanya sambil menyunggingkan senyum lebarnya.

"Kalo iya emang kenapa" dengan nada menantang "Emang itu kenyataannya ya gimana lagi, aku tahu kamu punya perasaan yang sama kayak yang aku rasain, tapi kenapa kamu ngak berani ungkapin ke aku???" Hening sesaat "Apa kamu ingat dulu ketika kamu meminjam novelku, kamu datang terlambat, padahal aku sudah menunggumu selama satu jam, hanya dmi pertemuan kita yang hanya tiga menit". Aku menahan bendungan air mata.

"Ya aku ingat" nada bicaranya melemas "Memang aku juga mempuyai perasaan yang sama ke kamu, tapi aku takut untuk mengungkpakan".

"Kenapa, apa kamu sudah ada yang punya, yang sudah memiliki hat paten untuk kamu???".

"Bukan, bukan begitu, hanaya saja jika aku ungkpakan, aku takut suatu saat nanti aku tidak mampu membuatmu kembali tersenyum".

"Apa hanya itu yang kamu fikirkan, apa kamu tidak menyadari aku selalu disini menanti kamu disudut kegelapan, setiap kali ada kamu aku mempunyai semagat tinggi, setiap aku bercermin, bayangan tawamu selalu berada di balik cermin itu. Aku yakin ini cinta Vin".

"Maaf Ren, aku merasa begitu bodoh. Selama ini kamu mungkin berfikir bahwa aku menjauhimu, aku mulai membencimu, aku bosan, tapi itu bukan kenyataan yang sebenarnya. Baik, aku akan mengambil keputusan". Sambil merendahkan tubuhnya "Maukah kamu menjadi pendamping hatiku???". Ucap Alvin agak terbata-bata.

"Hmm apakah harus aku jawab saat ini juga???" Wajahku kembali tersenyum "Ya!!! Aku mau menjadi pendamping hatimu, bahkan untuk selamanya".

"Semoga kita selalu bersama, sekarang aku bukan pangeran imajinasi kamu lagi kan???".

"Tentu saja tidak, sekarang kamu adalah bagian dari kenyataanku". Mataku melirik ke arah jam tangan mungil ku "Ya am,pun, 15 menit lagi gerbang sekolah bakal tutup tuh, cepetan pergi sana".

"Oh ya, aku berangkat dulu ya sweetheart, its the best day ever".Pria manis itu melantunkan sebait lirik lagu.


"Yah malah nyanyi, ya udah hati-hati ya. Alvin, sebenarnya aku masih mau menatap mataku lebih lama, tapi waktu yang memisahkan kita sejenak".

Hari ini kami sudah menyandingkan hati kami satu sama lain, ternyata tuhan menakdirkan garis jalan hidupku seperti ini. Cinta itu memang sederhana, hanya ada aku dan kamu selebihnya hanya penonton.

Dari sudut kejauhan Vira datang. . .
"Vir, gue udah jadian sama Alvin, haha gue nya yang mau marah sama loe ngak jadi deh".

"Aseekk akhirnya tak tik gue tadi berhasil".
"Bisa aja loe Vir".

Kami tertawa bersama, saling berbagi rasa kebahagiaan, aku kini bukan berimajinasi lagi, tapi aku menghadapi kenyataan yang semanis lollypop. Ya skenario tuhan mamang sangat sulit ditebak, dan kini aku telah menjadi pemenang dan tetap selamanya pemenang :)



        With Love






   Nurhayatii Zaiinal ♥




Kamis, 22 Maret 2012

Buka Matamu Demi Aku

Doa-doa indah kulanturkan setiap detik hanya untuk seseorang yang amat ku cinta, dan Tuhan mendengarkannya, aku hanya tersenyum dan berterimakasih. . . .


Matahari mulai menampakkan wajah lelahnya sore ini, seorang gadis bermata coklat tua yang bernama Laras baru saja selesai melaksanakan kegiatan olahraga bersama teman-teman sekelasnya di salah satu lapangan hijau yang berjarak kurang lebih 2 kilometer.

Baru saja keluar dari pintu utama lapangan itu, Air muka gadis manis itu tampak begitu lelah, tetapi sesekali dia tersenyum manis ke salah satu pria yang ada di sebelahnya. Ya pria itu bernama Ryan yang merupakan kekasih ALaras. Sambil berjalan, sesekali pasangan dua sejoli itu tertawa lepas.

 “Duh, capek banget ya hari ini” Ryan menghela oksigen sesaat “Kita cari tempat makan dulu yuk”. Kali ini dia melepaskan oksigen yang dihirupnya.

“Okidoki, perut aku udah ngeSguffling ni trus tenggorokanku benar-benar kering, gara-gara kita olahraganya agak lama”.

“Dasar tembem, diajakin makan langsung nurut, hobby banget ya tembemku makan”. Ucap pcowok tampan itu manja.

“Ahaha. . . Sangat suka, ingat prinsip hidup aku Makan untuk hidup, Hidup untuk makan”. Laras tertawa lepas.

Tembem adalah panggilan kecil dari Ryan, Laras yang mempunyai hobby makan selalu menjadi tawaan kecil. Biarpun hobby makan tetap saja tubuh Laras tidak melebar.

“Ya deh prinsip yang hebat”. Kali ini Ryan tersenyum manis “Eh. . . Ada resto fast food tuh, kita kesana aja ya”.

Laras mengangguk mengiyakan ajakan pangeran hatinya. Fisik Laras memang terlihat begitu lelah, tetapi tidak dengan bathinnya yang saat ini tengah beristirahat disamping hati Ryan, terasa begitu teduh.
  
Newton bisa saja memiliki hukum gaya gtavitasi untuk benda-benda dibumi ini, tapi hatiku tidak akan pernah  terjatuh hanya karena gaya gravitasi. 

Selang beberapa menit kemudian, mereka berdua telah selesai melepas dahaga dan mengisi perut mereka. Ini waktunya mereka pulang, mereka saling berpamitan.

“Ryan, aku duluan ya, makasih banyak buat hari ini.” Dengan gaya khasnya Aci melambaikan tangannya dua kali.

“Ya, eh besok jangan lupa ya nonton pertandingan basket aku.”

"Ohh. . . Ceep, ntar aku bakal jadi supporter paling heboh, oh ya pas abis pertandingan aku mau kasih kamu kado spesial, aku bakal” Sambil berfikir “Aku bakal lemparin bola basket kekepala kamu”. Laras tersenyum sinis.

“Ha. . . Usilnya bangkit lagi deh, ya udah aku pulang ya bye my love ingat ya aku selalu cinta kamu”. Ucapnya berulang-ulang
 Laras agak aneh dengan kalimat yang dilontarkan Ryan, tidak biasanya dia mengucakan kalimat itu, berulang-ulang ahh tapi Laras mengganggap itu sebagai angin lalu. Di sisi lain, Ryan menanti bayangan gadis pujaannya menghilang terlebih dahulu, baru ia beranjak pergi.

Hari Minggu, ini adalah hari pertandingan basketnya Ryan, tetapi Ryan tidak tampak sejak pertandingan berlangsung, Air muka Laras kini terlihat cemas. Beberapa menit kemudian ia mendapat telefon bahwa dalam perjalanan menuju temapt pertandingan Ryan mengalami kecelakaan. Sontak saja ia langsung menuju rumah sakit tempat Ryan kini dirawat.

Sesampainya di sana, Laras mendapati Ryan tengah tertidur lelap. Laras bisa sedikit bernafas lega tetapi ada hal yang kini membuat dadanya terasa  sesak, ternyata kini Ryan tengah koma. Laras hanya bisa tertunduk pasrah, berualng kali bibirnya melantunkan doa-doa memohon keselamatan Ryan, dia yakin bahwa  Ryan akan segera sadar dan bisa melemparkan senyum hangatnya lagi untuk Laras. Tetapi tidak!!!! 

Ryan, sudah terbaring lemah di kasur berwarna biru itu selama 21 hari, tanpa membuka matanya sedikitpun. Laras tetap menunggu Ryan, setiap pulang sekolah gadis yang menyukai geografi itu selalu mengunjungi Ryan, terkadang setiap ada jadwal libur, Laras nginap di rumah sakit. Tak heran jika keluarga Ryan mulai dekat dengannya dan sudah menganggapnya seperti kelurga.

"Laras, apa kamu tidak kerepotan nginap disini". Tanya Mama Ryan.

"Oh, ngak kok tante" sambil mengambil sebotol air mineral "Laras nginap disini kan jagain Ryan". Laras tersenyum manis.

"Iya deh, kalo kamu kerepotan ngomong aja sama tante".

"Laras ngak bakal kerepotan kok tante, semua yang Laras lakuin dari hati"

"Kamu memang yang terbaik Laras, tante percayakan kamu sama Ryan"

Laras baru tersadar kali ini Ryan sudah pulas terlelap selama 2 tahun lebih, yang artinya Laras sudah menduduki bangku SMA tingkat akhir. Laras tetap menyandingkan hatinya untuk Ryan, tidak ada seorang pria pun yang membuat hatinya tertarik. Ini kekuatan cinta sejati. 

Ini waktunya Ujian Nasional, kai ini Laras ingin fokus dulu untuk hal penting itu, dia sudah agak jarang mengunjungi Ryan, keluarga Ryan memaklumi hal itu. Hingga saat nya penentuan kelulusan. Laras berhasil lulu dengan peringkat ke 3 disekolahnya. Terlebih dahulu ia mengunjungi rumahnya dan berangkat ke rumah sakit membawa kabar gembira.

Sesampainya disana, air muka Laras terlihat bahagia karena kelulusannya, selang beberapa menit, air muka Laras berganti aura menjadi kelam. Laras memandangi wajah Ryan, mengingat awal mereka berjumpa, berkenalan, dan saat mereka menyatukan hati mereka, mereka sudah bersama selama dua tahun lebih, dan ada hal yang membuat bibir Laras tertarik keatas, saat ini Ryan masih dibangku SMA dan Laras sudah tamat. Terasa sedikit konyol.

Laras memutuskan untuk kuliah di Bandung, disana Laras mengalami godaan untuk melupakan Ryan, tapi itu smua terhalangi berkat sebuah gambar ukuran dompet yang tersimpan di buku harian Laras, dan panggilan telefon dari keluarga Laras.

"Ternyata mereka masih mengingatku, layaknya aku mengingat Pangeranku". Sambil menggengam telefon selulernya.

Setiap ada waktu libur, Laras rutin mengunjungi daerah asalnya Bukittinggi, jarak Bandung-Bukittinggi bisa terbilang memakan waktu yang tidak sedikit. Tapi rasa lelah yang ada dibathin Laras tidak pernah sedikitpun buyar untuk mengunjuingi seseorang yang tengah terlelap pulas itu. Laras yang kini sudah berada pada semester 4, kini gadis itu tengah liburan dan kebetulan hari ini peringatan hari bersatunya m,ereka selama 5 tahun.

Laras menjejalkan kakinya didepan kamar inap Ryan, dari luar ia mendengar suara raungan seorang wanita yang tak lain dan bukan adalah Mama Ryan, Laras masih berdiri di posisi awalnya, denga n rasa penasaran Laras mendengar pembicaraan yang diselingi raungan tangis itu.

"Apa Ibuk yakin dengan hal ini". Terdengar suara seorang dokter pria berbicara.

"Iya, dok kami sudah mengikhlaskan anak kami dengan melakukan suntik mati". Suara isak tangis kini terdengar

Apaaa???? Suntik mati???. Hati Laras berkecamuk deras, apa yang dilakukan keluarganya itu, apa hati nurani mereka sudah lenyap???. 

"Apa yang akan tante lakukan?" Laras menerobos pintu "Apa hati nurani tante tidak ada, tante adalah orrangtua kandung Ryan, sedangkan  aku hanya pacar yang belum pasti akan menjadi pendmaping hidupnya, tapi aku selalku menunggu Ryan dan yakin dia akn membuka matanya untuk kita". Suara Laras meninggi.

Diam sesaat "Tante sudah pasrah sayang, tante takut dia tidak mampu lagi membuka mata untuk kita, janggap saja dia membuka mata, kemungkinan ingatannya akan hilang sebagian besar" Air mata sang Ibu itu sudah menetes.

"Kemungkinan memang begitu dek". Kali ini dokter itu mulai ikut berbicara.

"Apa??? kemungkinan, ingat keajaiban tuhan itu pasti ada kalau kita semua yakin, mohon tante jangan lakukan hal konyol ini, jika tante melakukannya aku akan kehilangan orang yang mampu membuat hidupku tegar, ingat tante betapa susahnya tante saat mendidiknya hingga sampai saat ini". Laras bersujud dikaki Mama Ryan.

"Kamu" dengan suara lirih dan memandang wajah Laras "Oh tuhan apa yang kulakukan, aku hampir menyia-nyiakan anakku, dokter tolong batalkan rencana ini".

Dokter itu hanya mengangguk dan langsung meninggalkan ruangan itu, Laras menghampiri Ryan, mendekatinya dan membisikkan sebuah kalimat.

"Sayang, apa kamu ingat ini tanggal 21 juni dan kita sudah bersama selama 5 tahun tepat, dan rasaku tetap mseperti awal kita bersama". Laras memeluk tubuh Ryan.

Air mata deras mulai menetes, mendung itu kini tidak bisa ditahan lagi. Mama Ryan hanya bisa melihat denga tatapan iba.

"Laras, tante bangga sama kamu, kamu rela menanti Ryan selama ini".

Laras hanya terdiam, pelukannya semakin erat, kini ia mendengar suara nafas yang keras, ahh mungkin hanya firasatnya. Dan kini ia mendengar suara yang begitu lirih.

"La. . .ras .." suara itu terpenggal dengan nada lirih.


Laras menoleh ke Ryan, dilihatnya mata Ryan sudah terbuka.

"Tante, Ryan sudah sadar". Nada seperti mendapat hoki yang tiada tandingan.

Ryan membuka matanya dengan mengucapkan nama orang yang dicintainya, kini ia terbangun, sudah 4 tahun lebih ia tertidur pulas dan bangun membawa sejuta kebahagiaan. Laras langsung berlari memanggil dokter tadi, sang dokter sangat terkejut melihat hal ini. Keajaiban tuhan bisa menghampirimu kapan saja. 

Doa-doa indah kulanturkan setiap detik hanya untuk seseorang yang amat ku cinta, dan Tuhan mendengarkannya, aku hanya tersenyum dan berterimakasih karena telah membukakan matanya untukku :)

Terimakasih tuhan telah mendengarkan doaku, dan memberiku jawaban atas penantian panjang ini. Takdir tuhan memang indah :)



         With Love



  Nurhayatii Zaiinal ♥






           

Kamis, 01 Maret 2012

Beri Aku Waktu Lebih Dari 3 Menit Bersamamu3

Ketika itu rintik hujan datang menyapa bumi setelah beberapa langkah kamu pergi, kamu tetap berlalu tanpa memperhatikanku kehujanan apa tidak.


 
Gubrakkkk, kakiku menabrak meja belajarku. Membuat kebisingan diantara kesenyian dipagi hari, kalau kebisingan tidak apa-apa, tapi yang paling parah adalah kakiku terasa sangat nyeri, mungkin 5 menit lagi kakiku akan membengkak atau membiru, kubiarkan saja rasa nyeri itu berlalu. Aku harus bergegas menjemput temanku untuk melaksanakan kegiatan lari pagi di Minggu yang dimana matahari masih tertidur lelap. Aku langsung saja mengganti baju dengan baju training ku tanpa mandi terlebih dahulu, aku memilih sepatu berwarna kesayanganku, yapp warna merah muda lembut.

Aku berjalan menelusuri komplek rumah temanku, aku merasa aneh dengan daerah yang kujelajahi. Sepertinya aku tersesat, maklum ini baru pertama kalinya aku kerumah dia tanpa bantuan apapun selain pesan singkat dari handphone flipku yang berisi alamatnya. Sudah dua kali aku melewati daerah ini, tubuhku merasa kelelahan, aku coba sandarkan tubuhku di sebuah rumah minimalis berwarna coklat muda aku benar benar rileks ketika aku meghilangkan rasa lelah ini. Tiba-tiba ada suara yang datang entah dari mana, aku menegakkan kepalaku yang tertunduk tadi, aku membuka mata dengan perlahan, aku melihat sosok orang yang tengah menepuk bahuku, ohh ternyata aku baru saja ketiduran di depan rumah itu dan dia membangunkanku.

"Hei bangun, kamu kok ketiduran didepan rumahku???". Sambil menghirup aroma cappucino hangatnya.
"Ohh aku mau kerumah teman". Aku masih setengah sadar, ucapanku sedikit ngawur.
Mataku terbuka sempurna, otakku mulai bekerja penuh "Oh maaf, aku mau kerumah teman buat lari pagi, tapi aku sudah melewati daerah ini sebanyak dua kali, aku kelelahan lalu aku beristirahat disini, maaf ya membuatmu merasa terganggu".
"Wah ngak apa-apa kok, memangnya kamu ngak tahu alamatnya???". Kali ini dia menikmati cappucino panas nya itu.
"Iya, aku hanya tahu alamatnya melalui sms". Sambil menyodorkan handphoneku ku ke hadapannya.
"Kalau alamat ini dekat kok dari sini, eh kamu Nayla kan? Kelas X.4??". Kali ini cappucinonya sudah habis.
"Iya, kok tahu??? Kita satu sekolahan ya???". Aku bangun dari posisiku.
"Iya, aku tetangga kelas kamu lho, aku Andri, sambil menjulurkan jabatan tangannya.

Aku pun menerima jabatan tangannya dengan hangat membuat udara dingin pagi terasa berlalu saja, kebetulan dia juga akan pergi olahraga pagi. Aku meminta dia untuk membantuku mencari rumah temanku itu. Dengan senang hati dia mengantarkanku. Ternyata aku salah masuk gang!! Jarak rumah dia dan rumah temanku itu hanya 100 meter saja, wahh betapa LOLA nya aku :)

Sesampainya disana pada pukul 05.45 pagi, Lili temanku sudah menungguku didepan pintu rumahnya . . .
"Yahh Nayla kok lama banget sih???". Dengan wajah cemberutnya.
"Maaf ya Li, tadi aku tersesat trus ketiduran bentar didepan rumah orang, ne orangnya baru kenalan juga tadi". Sambil mengarahkan jari telunjukku ke dia.
"Wahh makasih banyak ya Andri, kalo kalian ngak ketemu ni anak bakal tersesat entah berantah". Sambil nyengir dihadapanku.
"Iya ngak apa-apa kok, oh ya katanya kalian mau lari pagi ya, aku ikut boleh ngak???"
"Oh boleh boleh aja kok". Ucap Lili.

Sepanjang perjalanan aku berbincang hangat dengan cowok jangkung itu, sedangkan Lili?? Dia sudah duluan meninggalkan kami. Dia bertanya banyak mengenai identitasku, begitupun aku. Perkenalan singkat ternyata bisa membuatmu cerewet.
Perbincangan panjang kami terhentikan sementara, perut kami sudah ber Shuffle Dance meminta jatah makanan mereka. Kamipun duduk disalah satu tempat sarapan yang menyediakan bubur ayam, kami menikamatinya sambil bercerita dengan mulutku yang berlepotan. Aku melihat dari sakunya dia mengeluarkan sapu tangan lalu menyuruhku membersihkan mulut ku. Aku hanya bisa terdiam malu. Dan Lili, memandang kami sambil tertawa cekikikan lalu tersenyum lebar.

Setelah sarapan selesai, kami langsung pulang, aku duluan sampai dirumah.
"Lili, Andri makasih banget ya dah mau olahraga pagi bareng aku". Aku tersenyum manis.
"Iya, Nay, bay bay". Mereka berdua pun pulang.

Sesampainya dirumah aku mengingat kejadian perkenalan singkat tapi penuh dengan kalimat tanya yang panjang dan senyum riang dari raut wajah kami berdua, aku hanya tersenyum sendiri mengingatnya. Aku tidak ingin melewatkan rekaman manis tadi. Selalu kuingat sampai menjelang tidur.

Keesokan disekolah, aku baru tahu bahwa dia memang tetangga kelasku, ketika aku melewati kelasnya dia menyapaku aku dari belakang, aku menoleh dan hanya tersenyum. Kebiasaan itu berubah menjadi suatu ketertarikan gravitasi cinta, dimana medan magnet yang ada dikutub hatinya selalu menarik hatiku.
Aku mendapat info bahwa sejak pertama kali bertemu dia menyukaiku dan rasa itu berubah menjadi cinta, aku begitu bahagia mendengar kabar itu, hatiku terasa dipenuhi bunga sakura yang bertebaran dimana-mana.
Ternayata berdasarkan ilmu psikologiku dia menunjukkan tanda-tanda jatuh cinta padaku. Aku hanya pura-pura tidak mengetahuinya, berpura-pura bodoh dan lugu. Aku hanya ingin mengetahui sampai sejauh mana perasaanya terhadapku apakah hanya sekedar suka atau cinta?? Rasa cinta dan suka itu jauh perbedaanya.

Setiap melihatnya hatiku berdegup kencang, melaju dengan kecepata tinggi, darahku berlarian entah kemana, tidak berkumpul dengan tepat. Aku malu menatap matanya, setiap kali dia melengah aku menatapnya. Dia setiap bertemu dia berbicara gugup denganku, sesekali mengeluarkan senyum kecilnya. Sepertinya dia yang lebih gugup dariku.

Aku rasa kami sudah melalui PDKT selama 2 bulan, tetapi kami saling malu mengungkapkan perasaan. Yang kami lalui hanya mengirimi pesan singkat, bertemu lalu dia menyapaku, pertemuan yang sebenarnya hanya beberapa menit, dia mengantarkanku pulang lalu berpisah itu pun hanya terjadi 3 kali saja. Sebelumnya dia hanya bertindak pasif, tapi kini sudah mulai aktif. Tindakan kecilnya itu saja sudah membuatku bahagia.

Disudut kantin, aku tengah membaca sebuah bovel romantis, dia memperhatikanku dari kejauahan aku berharap dia datang menghampiriku tetapi dia tidak juga kunjung, hatiku terasa agak kecewa ada rasa rindu untuk menatap wajahnya. Dan sepulang dari sekolahan dia mengirimiku sebuah pesan singkat.

Novel yang kamu baca sepertinya bagus, kalo udah siap aku pinjam ya... Kebetulan aku juga suka baca novel ...

Ohh aku sudah siap bacanya kok, besok aku pinjamin ya... Sepulang sekolah aja...

Aku sudah keluar kelas, tapi kulihat pintu kelasnya masih saja tertutup rapat, aku singgah dulu kekelas temanku, kubiarkan lorong-lorong kelas agak sepi, aku ingin leluasa menemuinya. Aku sudah melihat kelas Andri sepi, dan kulihat disana, dia sudah tidak ada, refleks saja aku langsung mencarimu kesekeliling sekolah tetapi tidak ada..
Ahhh handphoe! Kenapa aku tidak memikirkannya, aku bisa saja mengiriminya sebuah pesan atau menelfonnya, akhirnya aku memilih mengirim pesan singkat...

Ndri, kamu udah dimana... ???

Wahh maaf ya Nay aku lupa , aku lagi diluar sekolah nih...


Oh gitu Wajahku langsung saja berubah aura, kini aura hitam merasuki jiwaku. Lupakah kamu dengan janjimu???

Nay, bentar lagi aku kesolahan kok, tunggu ya...

Kini aku sudah menunggu selama satu jam  penuh, untuk mengisi waktu luang aku pun memilih untuk makan mie yang bumbunya mengandung formalin. Demi kamu aku rela menderita, aku sudah berkorban banyak, tapi kamu apa??? Pengorbananmu hanya sedikit dari pengorbananku.

Aku sudah menunggu 1 jam 15 menit, lalu kamu datang. . .

"Maaf ya Nay, oh ya jadi kan aku pinjam buku kamu???"
"Iya". Aku langsung menyerahkan bukuku itu.
"Oh ya uda mau pulang".
"Ya Ndri ne juga mau pulang".

Tidak terasa percakapan ku hanya berdurasi selama 3 menit. Begitu singkat kata-katanya. AKU BENCI ITU SAYANNNG TT.TT
Aku pulang searah dengannya menuju gerabang. Dia hanya memperhatikanku saja.
Diapun berlalu beberapa langkah dariku.

Ketika itu rintik hujan datang menyapa bumi setelah beberapa langkah dirinya beranjak dari hadapanku, dia tetap berlalu tanpa memperhatikanku kehujanan apa tidak.
Wajah ku telah dibasahi tetes-tetes kecil air mata bumi yang menangis ketika melihat harapan hatiku  meninggalkanku disini.
Mungkin pertemuan kita yang begitu singkat tadi  membuat bumi dan langit tidak bahagia.

Tiba dirumah, sesaat ketka aku melepaskan sepatuku yang sedikit basah, aku diberitahu mama, besok aku sekeluarga akan pindah keluar kota, papa mendapat tugas dari kantor untuk kerja ditempat yang telah ditentukan. Aku begitu shock mendengarnya, pikiranku melayang pada Andri, pengisi relung jiwaku. Jiwaku  menangis dikamar sendirian pada saat malam sunyi, aku sengaja tidak memberitahu Andri, tetapi aku hanya memberitahu Llili bahwa aku akan pergi pindah, aku tidak mau cowok manis itu kehilanganku terlalu dalam.

Keesokannya..
Aku sudah berada dibadara..

Aku masih saja teringat Andri, "Andri, semoga disaat kita berjumpa kembali novel yang kamu baca sudah koyak, artinya kamu sering membalikkan halaman yang disana kuselipkan kata kecil untukmu bertuliskan puisi yang ada namamu" Itu ucapku dalam hati sambil menahan bendungan airmata ini.

Sementara disekolahan, Lili memberitahu Andri bahwa Nayla sudah pindah keluar kota. Andri menyesal tidak mengungkpakan perasaannya. Andri langsung melihat novel dimana didalam salah satu halamannya terdapat puisi untuknya.
Penyesalan selalu datang di akhir. Dan Itu terjadi pada Andri, kenapa dia hanya berbicara pada ku selama 3 menit saja.
Andri langsung menelfon aku.

"Nayla, kenapa kamu pergi tanpa memberitahukanku akan sesuatu???"
"Maaf, aku tidak ingin membuatmu kecewa, aku tahu kamu cinta sama aku begitupun aku padamu". Airmataku mulai tak tertahankan lagi.
"Maaf  Nay, belum ada waktu yang tepat".
"Ya sekarang adalah waktu yang tepat, waktu yang tepat dimana kitaakan berpisah, kenapa kamarin kamu berbicara padaku hanya selama 3 menit, aku butuh waktu lebih dari itu. Beri aku waktu lebih dari menit yang hanya sekejap itu untuk menatap matamu walau aku tak mampu, meraskan atmosfer yang menyesakkan tapi itu membuatku bahagia, tapi kamu langsung pergi dan membiarkan aku kehujanan"

Pembicaraan kami terhenti sebentar, oleh suara papa yang memanggil ku.

"Nay, udah selesai telfonannya". Dari kejauhan suara papa terdengar

Karena perasaanku sedang dicampur aduk dengan rasa sedih, marah tanpa sengaja aku melantangkan suaraku keada papa dan membuat semua penghuni bandara menoleh padaku.

"Pa, tunggu bentar deh, kalo ngak mau tunggu, papa sama mama aja tu yang pergi duluan, aku tinggal disini aja". Sambil membanting  koper lucuku kelantai.
Papa dan mama hanya bisa terdiam, aku menitikkan air mata beberapa tetes, kedua orang tuaku hanya cemas ketidaktahuan takut ketinggalan pesawat. Aku langsung menutup telfonku tanpa aba-aba selamat tinggal atau selamat tinggal, kubiarkan perasaanku terpendam dihati ini selamanya.
Dan benar saja ulah ku yang menelfon Andri selama 20 menit membuat kami ketinggalan pesawat. Huaaa ada rasa kasihan terhadap orang tuaku dan rasa bahagia tidak jadi pergi hari ini, otak kananku harus berfikir cepat untuk menetukan pilihan hidupku.
Kami kembali pulang menaiki sebuah taksi, ditengah perjalanan aku mulai mengungkapkan isi hatiku yang terdalam.

"Ma, pa, maafin aku ya gara-gara kelabilanku kita ngak jadi pindah keluar kota, yah walaupun papa kerjanya satu minggu lagi disana. Aku cuma mau mengungkapakn, aku ingin tetap tinggal disini, ada secercah harapan yang ingin kukejar, aku ingin menetap disini bersama mama, papa kan cuma kerja diluar kota jadi setiuap weekend papa bisa kesini kan. Atau aku dan mama mengunjungi papa. Kasian juga lo, rumah kita ditinggalin sapa yang mau huni???". Sambil menyembunyikan air mataku yang sesaat lagi akan muncul.

"Coba kamu tanya sama mama". Gumam papa
"Kalau kamu masih ada yang ingin dikejar disini, dan hati kamu berkata untuk tetap ngak mau pindah, mama akan temanin kamu disini sampai tamat SMA". Mama membelai rambutku.
"Makasih banyak ya ma". Air mataku kini tidak terbendungkan lagi.

Aku menangis dipangkuan mama dan tertidur dipelukannya. Dekap peluk seorang ibu terasa begitu hangat. Aku pun terbangun ketika sudah sampai didepa rumah, aku bahagia melihat rumah ini lagi. Rumah adalah dimana kamu bisa bahagia bersama penghuni lainya, bukan tempat kamu tidur saja.

Ahh aku lupa, aku belum memberitahukan Andri bahwa aku akn tetap tingal ,disini, tapi aku tidak mau memberitahunya atau siapapun dulu. Aku ingin melihat reaksi Andri yang sebenarnya kehilanganku.

Malam harinya aku menelfon Lili...
"Li, gimana kabar kamu hari ini??? apakah kamu bahagia tanpaku???". Sambil menahan cekikikan tawa karena aku pura-pura sudab pindah.\
"Sangat tidak menyenangkan say, aku begitu mengingat ketika kita bersama dulu, sekarang aku hanya bisa mengingatnya bukan merasakanya". Dari suaranya sepertinya dia menenagis.
"Aku tetap akan merindukanmu, bagaimana dengan Andri???".
"Dia sepertinya benar-benar menyesal atas kepergianmu, sejak menerima kabar dari kamu dia tu  selalu murung, spas aku melewati kelasnya dia tidak memperhatikan apa yang diterangkan oleh guru. Sepulang sekolah dia bercerita ke aku kalo dia tu rindu liat tawa kamu, senyum manis kamu, dia ingin berbicara dengan kamu selama-lamanya".
"Hmm sepertinya dia benar-benar menyesal tapi itu semua sudah terlambat, aku sayang banget sama dia tapi kenapa sikapnya begitu???". Aku mengingat kejadian hari yang lalu.

Aku bercerita beberapa menit, lalu aku menutup telfon. Dua hari lagi aku berencana akan masuk sekolah lagi, esok hari aku biarkan dia mengenangku sepuas-puasnya, aku korbankan pelajaran esok, demi aku mengajarkan dia sebuah pelajaran berharga, jangan pernah menyia-nyiakan orang yang disayangi.

Ini adalah hari dimana aku sekolah, aku sengaja berangkat pagi aku ingin memberi kejutan untuk Lili terlebih dahulu.
Di kelas, aku menunduk terdiam dan tidak beberapa lama lili datang, dia menepuk bahuku lalu menatap wajahku, dia begitu bahagia melihatku, memelukku dengan pelukan yang membuatku sesak nafas. Saat jam istirahat kami berdua melewati kelas Andri, aku melihatnya termenung sendirian, aku mendekatinya tapi dia tidak memperhatikanku, lalu aku memaggil namanya.
"Andri". Sapaku lirih.
Dia hanya mendongakkan kepalanya, tidak percaya aku kada disini, dihadapannya dan tersenyum, hampir saja dia menggenggam tanganku, tapi aku menolak genggamannya.
Aku bercerita kepadanya tentang kejadia aku tidak jadi pindah keluar kota, sampai rencana ku mengerjai Lili dan dirinya.

"Wah lili, aku kangen banget dengar suara tawa kamu, aku bersyukur kamu tidak jadi pindah, sekarang aku bahagia. Aku janji tidak akan bebicara dengan kamu lagi dengan durasi 3 menit, tapi aku akan bicara sama kamu dengan durasi selama-lamanya, poulang sekolah nati kita ngobrol ya". Selalu menatap mataku.
Aku tesenyum manis "Iya, Ndri"

Sepulang sekolah, Andri telah menungguku keluar kelas, kami berbicara disudut kantin..

"Nay, maaf ya selama ini aku mungkin menyia-nyiakan kamu , jujur sejak pertama kali kita bertemu langsung tepatnya saat kamu tersesat didepan rumahku, aku merasakan adanya getaran cinta. Aku cuma mau tanya kamu bersedia menjadi pendampingku selamanya???'. Sambil memberikanku sepotong coklat.
"Iya Ndri, aku mau asal kamu janji berbicara denganku tidak untuk waktu 3 menit saja, tapi lebih banyak dari itu, kamu tau aku begitu merindukanmu setiap kali kita terpisah". Aku hanya tertunduk sambil menahan seyuman.
"Ok aku janji, selamanya aku bakal bicara sama kamu".

Akhirnya harapanku terwujud, kalimat demi kaliamt yang kutulis di lembaran novel ku itu akhirnya terwujud juga. Rencana tuhan memang begitu indah.




         With Love








     Nurhayatii Zaiinal ♥








Jumat, 24 Februari 2012

Manfaat menulis di Blog :)

God day all, hari ini aku memposting tentang manfaat menulis, apa saja sih serunya menulis itu??? Ihh nulis itu bikin capek deh??? Nulis itu cuma bunag buan waktu ya??? Hmm mari kita singkirkan opini yang sering dilontarkan khalayak umum yang buka  penulis.
Menulis itu banyak manfaatnya kok, mau tahu?? Check di bawah ya ^^

#Membangkitkan percaya diri

 Kepercayaan diri yang tinggi bisa datang dari menulis lho, alasannya disini tempat dimana kita bisa meluapkan emosi, mencurahkan kejadian yang pernah kita alami misalnya disapa cowo cakep n tenar, dimarahin guru, ulangan harian yang gagal, dan sebagainya. Yah singkatnya Diary online, kita curhat sama dunia maya!!! Dengan mencurahkan isi hati dan segenap perasaan, kepercayaan diri yang hilang bisa bangkit lagi lho.
Contohnya aja aku yang lagi GALAU mikirin tentang seminar pertama kali dihidupku, dengan menulis aku tidak terlalu gugup, malahan terselip semangat.

#Menghilangkan StrezZzzZ
 Rasa stres sering kita alami, dengan menulis di blog kita bisa refreshing otak yang lelah akan jadwal yang padat. Kita bisa menulis apapun yang ada dibenak kita, Saya punya kata motivasi "Tulislah apa yang ada difikiranmu, tapi jangan fikirkan apa yang harus kamu tulis". Imajinasi dink :)

#Sumber penghasilan

 Menulis di blog bisa jadi sumber penghasilan lho, walaupun umur kita yang masih bocah. Misalnya kita menulis tentang keindahan panorama daerah Indonesia, siapa tahu visitor blog kita ini orang luar, dan mereka pun tertarik mengunjungi Indonesia. Aliran dana pun mengalir ke negara kita.
Lho???
Buat si penulis manaaa???
Oh iya, kalo buat si penulisnya, misal kita menulis tentang sebuah cerpen dan ternyata cerpen itu sangat bagus. Siapa tahu visitor blog kita tertarik untuk membeli cerpen hasil karya kita?? Hasil uangnya pun lumayan cukup buat traktiran lho.

#Membagikan Informasi
  Singkat saja, kita menulis tentang dampak negatif atau positif dari suatu benda atau apalah. Nah si visitor yang ngak tahu akan informasi itu menjadi tahu setelah membaca postingan kita. Kita dapat manfaat yang menguntungkan, yaitu dapat PAHALA. Membagi informasi yang benar kan membuat kita mendapat pahala.

#Dunia Imajinasi
 Disini kita seru-seruan mnulis tentang imajinasi kita, dari imajinasi yang kecil bisa kita kembangkan menjadi hal yang besar. Seperti cerpen, kita hanya butuh imajinasi kecil lalu kita kembangkan menjadi sebuah cerpen ataupun tulisan yang lain.

Sekian dulu yahh.. kalau ada yang mau nambahin juga gpp, butuh juga buat  seminar..



         With Love








    Nurhayatii Zaiinal ♥

Sabtu, 18 Februari 2012

My Prince Imagination


Aku kini menyebutnya "Prince Imagination". Aku hanya bisa berimajinasi dengan bayangannya, berharap aku bisa terhubung dengan telepatiku ini.


Hari ini aku tengah melakukan sekolah tambahan sampai jam 5 sore, waktu masih menunjukkan pukul 2 siang, terik matahari begitu menyengat kulit ku, karena kepanasan tenggorokan ku kering. Aku pun izin keluar sebentar untuk membeli sesuatu yang bisa melegakan tenggorokannku. Aku pun ke kantin melewati kelas X4, disana aku melihat seorang siswa yang tengah mahir mengerjakan soal kimia, lngkah ku terhenti sebentar aku meliat parasnya bisa dibilang cakep, otaknya sepertinya pintar. Aku bergumam, aku pun teringat bahwa aku harus membasahi tenggorokanku.
Sekembalinya aku dari kantin, aku melewati kelas itu lagi, kini aku melihat dia sedang tengah asyik berbicara dengan teman sebangkunya, entah rasa apa yang menarimk pandanganku terhadap seseorang itu. Setibanya di kelas aku terus mengingat dia, tapi lamunanku terhentikan oleh sura lantang guru ku yang sedang mengajarkan tentang trigonometri. Imajinasi ku terputus dengan menghadapi kenyataan.

Jam setengah empat, aku istirahat sekalian melaksanakan sholat Azhar, setelah aku berwudhu, aku melihat cowok yang tadi lagi, aku melihat dia berwudhu dan ke masjid, lalu mengumandangkan adzan, dan ternyata suaranya waww membuatku merinding. Aku berfikir, mungkin aku hanya tertarik karena kemahirannya akan segala sesuatu hal yang dia lakukan sejak tadi.
Lama kelamaan aku bertindak bagaikan seorang DETEKTIF GILA YANG GAGAL, aku selalu ingin mengetahui segala sesuatu yang menyangkut dirinya, mulai dari namanya, alamatnya, makanan favoritnya, semuanya sampe nomor sepatunya. Aku heran, sepertinya aku merasa mulai terpuruk didalam ketertarikan gravitasi cinta.

Setelah sebulan, aku baru mengetahui namanya. Cowok bertubuh tinggi itu bernama Givan Utama Putra panggilannya Givan. Tampangnya begitu cakep, bertubuh tinggi (ideal), pintar dalam pelajaran matematika, kimia fisika bla bla bla, bisa dibilang semuanya, perfect dah, apalagi dia jago basket.
Tiap pulang sekolah, aku merubah tempat tongkronganku dari depan gerbang sekolah menjadi lapangan basket, aku berpura-pura didepan mereka mengerjakan tugas harian, tetapi aku memantau gerak gerik tangguh dari Givan ketika bola kecil itu dilayangkan ke ring. Aku bertepuk riuh dalam hati.
Selesai dia bermain basket, aku juga beranjak pulang, arah rumah kami sepertinya searah, dia berjalan dibelakangku. Kebetulan aku membawa beban buku tebal yang membuatku gelisah untuk memeluknya, dan GUBRRAAKKK, buku yang kupeluk terjatuh semuanya, ahh kenapa sih pelajaran hari ini semuanya menggunakan buku yang tebal setebal kamus???. Ketika aku baru mengambil dua buku itu, Givan datang membantuku mengambil buku yang ketiga dan keempat, disaat dia mengambil buku keempat itu, mata kami saling bertemu, terkunci selama beberapa menit dan buyar karena handphoneku bergetar.

"Lovia, kamu lagi dimana, oh ya ntar malam aku jadi ya nginap dirumah kamu"

Aku tidak mengiraukan pesan singkat itu, aku bangkit dari posisi ku mengambil buku itu, dia pun juga berdiri.
Dengan gugup aku mulai berbicara "Makasih ya"
"Ya sama-sama, namaku Givan". Sambil menjulurkan tangannya.
Aku menerima sambutan hangat tangannya "Aku Lovia, kamu jago juga main basket ya".
"Wah ngak juga kok, biasa aja". Sambil tertawa kecil.

Apa??? itu hal biasa baginya, bagaimana jika luar biasa, pasti permainannya mengalahkan Michael Jordan. Dan membuatku ingin meninggalkan jejak tepuk tangan yang riuh diantara semua penonton. Aku begitu terkesima dengan tatapannya tadi.

"Oh kalau begitu aku duluan ya". Ucapku terbata-bata.
"Barengan aja, buku kamu biar aku yang bawain, ngak bagus lho cewek bawa beban yang berat". Dia mengambil bukuku dengan pelan tapi pasti.

Hatiku langsung saja seperti berkelopak, tidak ada duri yang menumbuhinya atau batang yang keras, hanya kelopak bunga mawar yang berjatuhan. Kami berpisah di dekat rumahku, saling berpamitan.

Day by day, dia jarang terlihat olehku, memang sih dia sering bermain basket di lapangan basket, tapi jadwal les ku menghalangi untuk menatap kemahirannya. Aku hanya bisa melihat dia tiap hari Jum'at ketika pulang sekolah sore dan sabtu saja, selebihnya hanya rindu yang mendera di hatiku.
Dia semakin jarang terlihat muncul di depan mataku, Givan, aku kini menyebutnya "Prince Imagination". Aku hanya bisa berimajinasi dengan bayangannya, berharap aku bisa terhubung dengan telepatiku ini.
Ketika bertemu, dia hanya menyapaku, memanggil namaku tidak lebih dari itu, kadang aku sejalan pergi kesekolah, dia hanya menyapaku juga, mengucap kata lebih dari itu jarang, hmm maksudku tidak pernah.

Semakin jarang terlihat, hatiku tidak pernah lelah untuk menatapnya, mencari dimana dia. Semangat itu aku perjuangkan, untuk menatapnya saja aku sudah bahagia.
Tapi, kemudian akun sadar, My Prince Imaginationku sepertinya tidak mempunyai gelagat untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang kulakukan. Aku hanya bisa diam tertunduk, tersenyum melihatnya, walau hatiku ini sudah ditumbuhi duri mawar yang sedikit-sedikit mulai menyesakkan dadaku.

Kini aku biarkan saja waktu yang menjawab, jika dia memang ditakdirkan untukku pasti dia ada untuku disuatu saat nanti, walaupun aku sudah bersama yang lain, dia pasti akan datang jika itu memang takdirku.
Aku hanya berdoa kecil semoga dia selalu dalam keadaan yang baik, selalu tersenyum, selalu mengenaliku walau wajah ku tidak seperti yang sekarang. Dan aku tetap berteman dengan imajinasiku tentang dirinya. Ingatlah aku My Prince Imagination :')




    
             With Love




       Nurhayatii Zaiinal ♥